LINGKAR INDONESIA (Ukraina) – Apa yang terjadi jika puluhan ribu narapidana direkrut paksa untuk maju ke medan perang ? Jawabnya tentu mengerikan, mereka akan cepat frustasi untuk kemudian mudah terbunuh oleh lawan, bunuh diri dan saling bunuh.

Itulah yang terjadi dengan tentara bayaran Rusia yang direkrut dari pra narapidana. Dari 50 ribu tentara yang dikirim, sebagian kecil saja yang sukarela, selebihnya sebab terpaksa dan terintimidasi. Alhasil, 40 ribu tentara lenyap terbunuh dan hilang, sisanya mulai saling bunuh. Bahkan, komandan mereka pun dibunuh.

Sejumlah tentara bayaran Rusia Wagner Group diklaim membunuh komandan mereka menggunakan sekop di medan tempur Bakhmut, wilayah timur Ukraina.

Dugaan tersebut disampaikan pihak Ukraina melalui video yang direkam dari drone milik mereka, seperti dikutip dari Newsweek.

Para tentara swasta Wagner telah menjalani pertempuran di wilayah tersebut selama kurang lebih setengah tahun.

Tampak dalam video drone milik pasukan khusus Ukraina, Seneka pekan ini, empat pria yang diklaim sebagai anggota pasukan Wagner menyeret seseorang yang diduga komandan mereka.

Para tentara itu menarik kaki dan tangan pria tersebut yang diduga sudah tak berdaya karena cedera parah ke sebuah puing-puing bangunan.

Sebanyak tiga di antara mereka tampak memegang sekop. Mereka kemudian memukuli pria yang sudah tak berdaya itu dengan sekop.

“Para tentara bayaran Rusia Wagner Group menyeret komandan mereka yang cedera. Seorang berpikir mungkin mereka tengah menyelamatkannya. Salah. Mereka akan ‘men-dostoyevsky-kan’ (membunuh) dia. Benar-benar ‘budaya Rusia yang hebat’. Pesan yang amat jelas bagi setiap komandan militer Rusia,” salah satu akun aktivis Ukraina, Melaniya Podolyak, menulis dalam unggahan video itu di Twitternya.

Sebelumnya dilaporkan bos Wagner Group merekrut puluhan ribu narapidana Rusia untuk dijadikan tentara bayaran mereka bertempur melawan Ukraina. Para napi itu dijanjikan kebebasan dan bayaran jika ikut berperang membantu Presiden Vladimir Putin.

Meski telah berbulan-bulan bertempur, Wagner Group dinilai tak menunjukkan kemajuan berarti dalam pertempuran di Bakhmut, Ukraina. Mereka pun perlahan mulai tergantikan dengan pasukan reguler Rusia.

Aktivis hak asasi manusia dari Rusia, Olga Romanova, mengatakan bahwa Wagner merekrut sekitar 50 ribu napi bergabung bersama kelompok tentara bayaran itu. Sekitar 40 ribu dilaporkan hilang hingga tewas, sedangkan hanya 10 ribu yang masih bertempur di Ukraina.

Pengacara dari Rusia Yana Gelmel juga mengatakan kepada media independen rusia Agentstvo pada Rabu (8/2/2023) sedikit sekali para napi yang secara sukarela bersedia bergabung bersama Wagner. Sisanya disebut Gelmel atas dasar keterpaksaan dan intimidasi.

Media independen Latvia Mediazona secara terpisah juga melaporkan bahwa bos Wagner Group Yevgeny Prigozhin mulai kekurangan anggotanya dalam pertempuran di Bakhmut.

Sebelumnya, Wagner Group mengklaim telah melakukan eksekusi terhadap mantan anggotanya yang direkrut dari penjara, Yevgeny Nuzhin. Pria 55 tahun itu dieksekusi mati setelah dibebaskan pasukan Ukraina usai tertangkap.

Nuzhin yang direkrut pada Juli 2022 melontarkan sejumlah pengakuan saat ditangkap pasukan Ukraina pada September. Salah satu pernyataannya adalah kritikan terhadap para perwira tinggi militer Rusia yang ia nilai terlalu santai.

Rekaman video yang beredar di kanal Telegram Wagner, Grey Zone, menunjukkan seorang pria tak dikenal dipukuli oleh beberapa orang menggunakan sekop hingga tewas. (*/im).

Bagikan:

Tinggalkan Balasan