Prawita GENPPARI Nikmati Heritage Loco Tour di Cepu, Blora

  • Whatsapp

Media Lingkar Indonesia – “ Setiap daerah di Indonesia ini memang benar – benar memiliki potensi wisata yang beragam dan luar biasa. Meskipun secara geografis kondisi daerah yang satu dengan yang lainnya berbeda, tapi pasti memiliki keunggulan masing – masing. Baik karena keindahan alamnya ataupun karena nilai sejarah yang dimilikinya. Salah satunya di Cepu Blora ini ada Heritage Loco Tour yang dikelola oleh KPH Perhutani Cepu, dan bertempat di Jl. Sorogo Cepu “, ujar Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Cepu – Blora Jawa Tengah, Sabtu (3/4).

Jika dilihat dari perspektif sejarah, Heritage Loco Tour pada mulanya adalah Bengkel Traksi atau Depo Loco tempat bersemayam Loco-loco tua milik Perhutani yang dibangun sejak tahun 1911, dan jaringan relnya dibangun pada tahun 1915. Jaringan rel tersebut merupakan salah satu rel tertua di pulau Jawa, bahkan di Indonesia. Sejak tahun 1915 dibangun jaringan rel kereta api di dalam kawasan hutan jati Cepu dengan panjang mencapai 300 km, dengan lebar sepur 1,076 m. Pemilihan lebar sepur ini dipekirakan untuk memudahkan sambungan rel lintas utama Semarang – Surabaya. Keberadaan jaringan kereta api di hutan Cepu tidak dapat dilepaskan dari keberadaan lokomotif uap fungsi utamanya adalah sebagai alat transportasi pengangkut hasil hutan.

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan tersebut, Tim Prawita GENPPARI sempat merasakan sensasi nikmatnya naik kereta api masa lalu. Artistik ruang dan gerbon kereta tampak masih asli seperti awalnya sehingga setiap pengunjung bisa merasakan nilai sejarah masa lalu. Bahkan secara khusus seluruh anggota TIM juga mengenakan pakaian tradisional Korea. Hal ini dimaksudkan untuk memadukan nilai artisitik sejarah yang dipoles oleh gaun tradisional yang tersedia.

Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa pakaian tradisional Korea yang paling populer ialah hanbok. Selain terkenal, hanbok juga memiliki desain unik dengan warna-warna yang sangat khas. Berbeda dengan kebanyakan pakaian tradisional Korea lainnya, hanbok memiliki sejarah yang panjang. Hanbok sendiri memiliki arti yang sangat penting untuk pakaian tradisional Korea. Hanbok terdiri dari 2 suku kata yaitu han dan bok. Han adalah klasifikasi untuk orang Korea. Sedangkan bok berarti pakaian dalam bahasa Korea. Ujarnya.

Lebih lanjut dia juga menambahkan bahwa pada awalnya, hanbok hanya digunakan untuk berpartisipasi dalam kegiatan atau acara – acara khusus. Namun untuk saat ini, beberapa pakaian tradisional Korea ini telah mengalami kemajuan dan menjadi pakaian yang jauh lebih modern. Hal ini dapat dilihat dari banyak varian hanbok, mulai dari hanbok bertema standar hingga hanbok kontemporer.

Hanbok untuk wanita terdiri dari jeogori, chima hanbok, dan juga sokchima atau sokbaji. Sedangkan untuk hanbok laki-laki terbuat dari jeogori dan jenis jeans khusus dengan model yang lebih sederhana. Sama seperti pakaian konvensional atau tradisional lainnya, hanbok juga memiliki definisi yang benar-benar melekat pada kehidupan dan juga budaya budaya Korea. Bentuk lengan hanbok yang terus-menerus terbuka lebar di ujung lengan menggambarkan panasnya budaya Korea, sementara bagian bawah hanbok yang dibuat kendur dan panjang menandakan kebebasan masyarakat Korea. Hanbok yang biasa digunakan oleh individu Korea, biasanya memiliki motif warna cerah. Pada zaman kuno nuansa yang disajikan pada pakaian tradisional Korea dianggap memiliki makna khusus.

Terakhir Dede juga menjelaskan bahwa ketika Raja Goryeo menikahi ratu Mongol, bentuk hanbok juga diubah dan mengikuti gaya gaun tradisional Mongolia. Mengingat bahwa dinasti Joseon memerintah Korea, tipe hanbok pria dan wanita diubah, dan juga hanbok ini berfungsi sebagai pakaian tradisional kekaisaran Korea dan hingga saat ini pakaian tersebut menjadi baju khas tradisional Korea.

“ Kombinasi sejarah kereta api yang dibalut dengan pakaian tradisional Korea ini, menjadi daya tarik tersendiri dan menambah estetika wisata yang ada di Cepu ini. Mudah – mudahan ke depannya disediakan juga pakaian tradisional Indonesia di masa itu, agar nafas sejarahnya lebih terasa sehingga setiap pengunjung dibawa pada nostalgia masa lalu “, pungkas Dede mengakhiri percakapan.

Tinggalkan Balasan