Perempuan Merdeka Akal Oleh: Ayu Hazar Qurbaini, S. Psi (Ketua Umum Lembaga Bela Asasi Anak dan Perempuan Bekasi)

  • Whatsapp
banner 468x60

Lingkar Indonesia. Masa Orde Baru, beragam aktivitas masif yang digiatkan oleh beberapa organisasi sengaja dibekukan. Para pemikir kritis yang berani bersuara, atau kumpulan orang yang berhimpun melakukan perlawanan terhadap sistem otoriter pada masa itu, sudah pasti diburu, bahkan tak sedikit hilang tak tertemu, hanya meninggalkan sejarah sendu. Tidak terkecuali gerakan perempuan yang sengaja disingkirkan. Pada masa dimana banyak mulut dibungkam ini, perempuan bagai tawanan. Citra perempuan sengaja dibentuk hanya sebagai kaum ibu dan istri semata yang tidak diberi kesempatan untuk menjadi manusia utuh. Sayangnya, banyak kaum adam justru menikmatinya, mengubur daya perempuan yang sebenarnya memiliki hak untuk merdeka jiwa dan raganya. Kenyataan pada saat itu menghancurkan gerakan perempuan yang telah ada di masa sebelumnya, dimana pada zaman Orde Lama, Ir. Soekarno telah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan untuk menempuh pendidikan, mengambil peran dalam ranah politik dan sosial serta banyak dari perempuan yang dengan gagah berani mengangkat senjata untuk turut serta berperang melawan penjajah.

Bahkan sebelunya, pada akhir abad ke-19, perempuan-perempuan muda sudah terlibat dalam perjuangan bersenjata yang tidak kalah militansinya. Perempuan diberi kesempatan menjadi pemimpin bagi pasukan dan rakyatnya, padahal sebelumnya hanya sebatas membantu siami atau ayahnya. Cut Meutia dan Cuk Nyak Dhien, misalnya, Christina Martha Tiahahu bersama Kapitan Pattimura, Emmy Saelan bersama Monginsidi, serta Wolanda maramis dan Nyi Ageng Serang.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Pada masa itu, perempuan-perempuan begitu tangguh yang menjadi pelaku sejarah, walau belum menyadari tentang konsep kesetaraan. Namun, yang menjadi keistimewaan dalam perjalanan perjuangan mereka adalah karena sebagian besar perempuan-perempuan ini merupakan kaum bangsawan yang dengan senang hati dan penuh semangat berjuang mempertaruhkan nyawa bersama dengan prajurit dan rakyat biasa dalam melawan kompeni.

Salah satu pejuang perempuan yang juga menoreh jasa bagi bangsa adalah RA. Kartini. Sosok yang kerap mempertahankan api perjuangannya agar terus menyala ini memiliki keinginan yang kuat untuk dapat mengenyam ilmu dengan bebas, belajar tanpa harus dibatasi oleh apapun dan oleh siapapun.

Kartini harus menerima kenyataan bahwa diusia 12,5 tahun dirinya tidak dapat meneruskan pendidikannya. Selama kurang lebih 4 tahun, Kartini hanya dapat membaca buku-buku dan surat kabar yang tersedia. Sedangkan saudara laki-lakinya dapat terus melanjutkan sekolah. Namun, dengan kemampuan mumpuninya dalam menguasai bahasa Belanda, Kartini menyalurkan gairah, energi, dan kekecewaannya lewat surat-surat yang ditulisnya.

Kartini menjadi seorang feminis yang anti terhadap kolonialisme dan feodalisme. Sejarah mencatat, bahwa Kartini merupakan seorang pahlawan yang berjuang untuk kesetaraan yang membawa perempuan berhasil meraih hak nya dalam memperoleh pendidikan serta meningkatkan nama perempuan dalam pembangunan bangsa dan negaranya diberbagai bidang.

Permasalahan-permasalahan yang dialami kaum perempuan tidak pernah surut. Memasuki era reformasi, kasus-kasus yang menimpa perempuan kerap terjadi, bahkan semakin memilukan. Perempuan etnis tertentu yang menetap di Indonesia, pada saat dimana terjadi demonstrasi besar-besaran, menjadi santapan sekelompok oknum bengis yang dengan kejinya menyakiti, memperkosa bahkan sampai ada jiwa yang lenyap karenanya. Tidak sedikit pula perempuan yang dengan luar biasa berani memimpin aksi bersejarah diakhir masa orde baru. Kakinya kuat menempuh aspal panas sepanjang jalan menuju senayan, kemudian disambut oleh pasukan bersenjata lengkap dengan peluru mematikan. Pada saat itu, banyak kisah menyayat hati tentang perempuan-perempuan yang harus kehilangan kehormatannya, harus kehilangan nyawanya setelah habis terinjak-injak bahkan tertembak, banyak pula perempuan yang kian gesit berjuang atas nama kaumnya.

Hingga kini, perjalanan perempuan belum berhenti. Kasus demi kasus yang semakin liar menjadikan perempuan korban kekerasan, atau para pelaku cacat logika yang berupaya memposisikan perempuan lebih rendah, justru semakin membangkitkan semangat bukan hanya kaum perempuan, bahkan kaum laki-laki agar segera menghentikan segala bentuk kekerasan yang menimpa perempuan.

Mari kita tengok, bagaimana agama mendidik pengikutnya agar berlaku baik terhadap perempuan. Karena perempuan hadir, bukan untuk media pelampiasan birahi, bukan untuk menjadi pelayan laki-laki, bukan untuk terkurung akalnya. Perempuan harus merdeka, raganya adalah simbol kemuliaaan, jiwanya adalah cerminan perjuangan, akalnya adalah bukti lahirnya beradaban. Selamat Hari Perempuan Sedunia.

#Women’sDay8March #PerempuanMerdekaAkal #AyuHazarQ #FounderBelaAsasiAnak&Perempuan

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan