Pengamat: Banyak ASN/TKK (Non ASN) Yang Masih Bekerja Secara Masif Dapat Munculkan Klaster Covid-19

  • Whatsapp
banner 468x60

MEDIA LINGKAR INDONESIA- SAHAT P. Ricky Tambunan, Pengamat Kebijakan Publik mengutarakan bahwa Pembatasan sosial berskala Besar (PSBB) tahap dua di Kota Bekasi yang sedang berlangsung terancam gagal dan diluar harapan, bahkan terancam muncul klaster masyarakat yang terpapar dikalangan ASN Kota Bekasi.

Dengan tegas Ricky Tambunan mengatakan, ancaman munculnya klaster tersebut, yakni di indikasikan banyaknya ASN/TKK (Non ASN) yang masih bekerja secara masif diseluruh wilayah Kota Bekasi.

Bacaan Lainnya

banner 300250

“Tidak adanya management waktu pembagian bekerja dan ASN dipaksa untuk bekerja secara masif, hal ini jelas ASN akan mudah terpaparnya ASN, Non ASN hingga TKK,” papar Ricky yang juga selaku Wakil Ketua Kantor Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kota Bekasi kepada medialingkar.com, Selasa (5/5/2020).

Images : Dokumen Terlampir -Net

Padahal, sambung Ricky, ASN/TKK (Non ASN) Pemkot Bekasi sudah banyak yang terpapar bahkan ada yang meninggal akibat Covid-19.

“Namun faktanya dilapangan sampai detik ini hampir seluruh ASN/TKK (Non ASN) di Kota Bekasi bekerja secara langsung bersentuhan dengan masyarakat, bahkan ratusan ASN/TKK (Non ASN) berkumpul tiap harinya di Stadion Patriot Chandrabaga untuk mengemas sembako, ini jelas rentan terpaparnya,” tegas Ricky.

Lebih lanjut, Ricky Tambunan menjelaskan hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ASN/TKK (Non ASN) Kota Bekasi, disisi lain mereka bekerja kasar mengemas sembako demi masyarakat, namun konsekwensinya mereka terancam terpapar, selain itu mereka juga dipaksa membuat menandatangani surat pernyataan pengunduran diri.

“Bayangkan, jika salah satu dari ASN atau karyawan yang positif, maka ratusan atau ribuan ASN yang berada di Stadion jelas menjadi ODP. Selain itu, ASN/TKK yang mengangkut dan mendistribusikan juga, secara otomatis menjadi ODP dan jika ada yang positif juga menjadi carier virus ke wilayahnya, celakanya lagi mereka diancam mengundurkan diri jika tidak mau bekerja karena diminta loyalitas tunggal pada pimpinan,” paparnya.

Oleh karena itu, sambung Ricky Tambunan kami menegaskan agar PSBB bisa berjalan efektif dan mengaharapkan Pemerintah Kota Bekasi meminta untuk ASN dan karyawannya agar dapat mengurangi mobilitas pegawainya.

“Hal itu agar lebih efektif PSBB ini kami meminta Walikota agar memerintahkan badan yang menangani kepegawaian untuk mengurangi mobilitas pegawainya. Meskipun tujuannya ASN membantu masyrakat secara langsung, tapi ujungnya tetap khawatirkan kita tidak tahu, apakah masyarakat tersebut terpapar atau sebaliknya ASN terpapar. Harapan ini saya kemukakan demi PSBB berjalan efektif dan Kota Bekasi bebas dari pandemi,” imbuhnya.

Selain itu, kata Ricky, saya juga menduga ada duit di sembako itu tapi kok Walikota tidak borongkan itu ke UMKM.

“Tanya Walikota berapa budget perbungkusnya sembako? Apa aja isinya? Sampai sekarang sudah berapa yang digelontorkan dari APBD Kota Bekasi untuk Covid-19? Siapa pemborong Bansos Walikota? Kok Walikota misterius untuk hal ini. Saya lihat Walikota sengaja tidak terbuka. Penggunaan Anggaran Bansos patut dicurigai,” pungkas Ricky seraya bertanya.

(Yudhi)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan