Jangan Bandingkan Stadion dengan Kesehatan

  • Whatsapp

MEDIA LINGKAR INDONESIA – Tujuh tahun silam, pada Maret 2014, bertepatan dengan HUT Kota Bekasi, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi Bersama Wakil Wali Kota Ahmad Syaikhu, meresmikan stadion dimana dua tahun kemudian diputuskan berganti nama dari Stadion Bekasi menjadi Stadion Patriot Candrabhaga (PCB).

Menghabiskan dana total Rp400 miliar yang berasal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov)Jawa Barat dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Stadion PCB menjadi salah satu kebanggaan masyarakatnya.

Bacaan Lainnya

Stadion bertaraf internasional ini, dalam perjalanannya, pernah kebagian menjadi venue pertandingan sepakbola putra, Asian Games 2018. Sejumlah laga internasional lain juga sempat menjajal lapangan ini. Maka wajar, bila klub-klub besar sepakbola nasional sempat menjadikan Stadion PCB menjadi markasnya. Persija dan Bhayangkara FC misalnya.

Di masa itu, hampir setiap pekan, Stadion PCB kebanjiran puluhan ribu pendukung dari masing-masing klub. Para pedagang sekitar, kebanjiran rezeki karena dagangannya dijamin ludes. Belum lagi parkiran, hotel dan beragam geliat ekonomi lainnya.

Di hari-hari lain, stadion yang berlokasi di pusat kota ini selalu dipenuhi kegiatan olahraga, baik para atlet atau masyarakat yang sekadar berolahraga ringan. Pendeknya, stadion tak pernah sepi aktivitas.
Ini persis seperti yang dimau Pepen—sapaan akrab Rahmat Effendi. Pada pidatonya saat peresmian stadion, ia mengatakan, stadion PCB dibangun semata-mata untuk masyarakat. “Anggaran pembangunan berasal dari pajak masyarakat, jadi siapa pun boleh berolahraga di stadion ini,” katanya kala itu.

Sampailah kemudian munculnya masa darurat pandemi seperti saat ini. Tidak mudah memang meninggalkan kebiasaan untuk tetap berolahraga. Persoalannya, dalam situasi apapun, kita sebagai manusia tetap harus beradaptasi dan menyesuaikan kebutuhan dengan keadaan.

Anjuran pemerintah Indonesia untuk masyarakat agar melakukan swakarantina demi mengurangi potensi penyebaran virus lebih luas, membuat sektor olahraga turut terusik. pertimbangannya jelas. Kesehatan dan keselamatan adalah segalanya.
Diakui atau tidak, saya yakin keputusan Pepen menjadikan Stadion PCB sebagai tempat karantina pasien Covid-19 lantaran pertimbangan Kesehatan dan keselamatan ini.
Sebagai pemimpin beliau tahu mana dijadikan prioritas. Jangan pula beranggapan, penempatan pasien di stadion, membuat olahraga dinomor duakan. Enggak lah!

Faktanya, hingga sekarang, stadion masih dimanfaatkan sesuai fungsinya dengan adanya kegiatan olahraga. Meski jumlahnya masih dibatasi mengingat protokol kesehatan, setidaknya atlet-atlet dari sejumlah cabang olahraga rutin latihan. Sekali waktu, silakan lihat sendiri.

Bila muncul kesimpulan stadion beralih fungsi menjadi tempat karantina pasien Covid, tentu fakta di atas gamblang dipahami. Bahkan boleh jadi kesan keberpihakan orang nomor satu di Kota Bekasi ini terhadap olahraga semakin tampak.

Jadi bila rencana PT Liga Indonesia Baru (LIB) menjadikan Stadion PCB sebagai salah satu stadion yang digunakan untuk Liga 1, tentu saja bukan masalah dan memungkinkan dimanfaatkan.
Pertanyaannya, apakah Pemkot Bekasi menjadikan Liga 1 sebagai prioritas? Atau bila nantinya Pemkot Bekasi menolak stadionnya digunakan dianggap sebaliknya alias bukan prioritas? Rasanya tidak!
Lagian, membandingkan persoalan penggunaan sarana olahraga dan kesehatan kurang apple to apple. Atau dalam istilah olahraga head to headnya gak pas banget.

Patut diingat bahkan bila perlu dicatat ulang, selama kepemimpinannya, ia merupakan wali kota yang pernah memberikan bonus terbesar se-Jawa Barat kepada atlet yang mengikuti Porda 2018 silam.
Tampaknya, hal ini akan diulangi pada Porda 2022 mendatang karena pada Rapat Kerja Tahunan KONI Kota Bekasi Desember 2020 lalu, ia menjanjikan bonus dua kali lipat dari Porda sebelumnya.

“Jika sebelumnya pada Porda lalu, Pemkot Bekasi memberikan bonus atlet peraih medali emas Rp100 juta, besok (Porda 2022)-red), kita akan berikan Rp200 juta,” katanya saat itu.

Untuk menegaskan pernyataanya, wali kota langsung menunjuk Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kota Bekasi, Dinar Faisal untuk merealisasikannya. “Nih, saya bawa pak Dinar agar mempertahankan Rp200 juta per atlet peraih medali emas. Jangan dikurangi lagi,” tegasnya.

Sejatinya, pria kelahiran 3 Februari 1964 ini gemar berolahraga. Hobinya bermain sepakbola. Di usianya yang sudah tak muda lagi, suami Guniarti ini kerap ditemui bermain sepakbola bersama anak buahnya.

Satu lagi, sebelum pandemik ia mempopulerkan senam Spartan Komando (Sparko) di lingkungan kerjanya. Kegiatan itu diwajibkan bagi ASN setiap Selasa dan Jumat.

Lantas, apakah menjadi ajaib jika pada akhirnya, ayah empat orang anak ini menerima penghargaan sebagai Pembina Olahraga Berprestasi dari Kemenpora pada peringatan Haornas 2017.

Mengingat kontribusinya tersebut, rasanya pria yang pernah menjadi Ketua Perbasi Jabar dan Pengurus KONI Jabar ini, layak menerimanya. Karena saya yakin, kecintaannya terhadap olahraga merupakan cinta sejati. Pada waktunya, pantas disematkan kepadanya gelar Patriot Olahraga Kota Bekasi. Salam Olahraga!

Tinggalkan Balasan