Giat Mengajar Anak Agar Seperti Albert Einstein

  • Whatsapp
banner 468x60

LINGKAR INDONESIA- Pernahkah Anda mendapat pesan terusan dari seseorang di WhatsApp Anda tentang kebiasaan ibu Yahudi yang sedang hamil, agar anak-anak mereka cerdas?

Banyak orangtua di Indonesia rupanya berpatokan pada Albert Einstein, penemu teori relativitas yang dikenal sebagai manusia jenius dan ilmuwan terbesar di dunia. Karena Albert Einstein kebetulan seorang berdarah Yahudi-Jerman maka banyak orangtua penasaran dengan pola pengasuhan dan pendidikan agar anak-anak bisa menjadi secerdas Albert Einstein atau minimal kreatif seperti pendiri Facebook Mark Zuckenberg. Kecenderungan atau minat memiliki anak cerdas seperti orang Yahudi bukan hanya melanda Indonesia tetapi juga di Cina, Korea Selatan dan Jepang.Sejumlah buku pengasuhan anak ala Yahudi terbit dalam bahasa lokal dan menimbulkan kegairahan dalam mengundang pembicara-pembicara Yahudi untuk datang ke negara-negara Asia ini dan memberikan seminar.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Albert Einstein

Kekaguman pada kecerdasan Yahudi itu sampai diwujudkan dengan membuka Universitas Technion, yang asalnya dari Israel, di Guandong, Cina. Cina memang menjadi negara yang paling masif dalam mengembangkan kerjasama riset dan penelitian dengan Israel.Tak bisa dipungkiri secara statistik ditemukan data, orang Yahudi hanya berjumlah 15 juta orang dari total populasi dunia yang mencapai tujuh miliar orang tetapi yang mendapat hadiah Nobel, penghargaan untuk ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian mencapai 206 orang. Negara terbanyak penerima Nobel adalah Amerika Serikat yakni 368 orang, tetapi 120 orang adalah Yahudi dan sekitar 20 orang setengah Yahudi. Sebuah buku diterbitkan oleh Derek Taylor berjudul “Jewish Nobel Prize Winners” awal tahun 2019 menyebutkan dari 206 penerima Nobel berdarah Yahudi itu terdapat satu kesamaan yang dimiliki yaitu umumnya beragama Yahudi Ortodoks.

Apakah ada hubungan antara ritual keagamaan dengan tingkat kecerdasan? Pemikiran ini muncul sebab indikasinya meski orang Yahudi terserak (diaspora) di sejumlah negara, dari hasil penelitian ditemukan data jumlah orang terdidik di sejumlah negara umumnya berasal dari kalangan Yahudi. Sebagai contoh di Amerika, 30% elit kampus di Amerika adalah orang Yahudi dan kaum profesional di Hungaria (bankir, pengacara, dokter, pemilik pabrik) adalah orang Yahudi meski secara jumlah orang Yahudi sangat sedikit. Artinya ada satu kesamaan yang membuat orang Yahudi di mana pun berada akan memiliki standar kecerdasan yang tinggi, tanpa bergantung pada mutu pendidikan di negara tempat mereka berdomisili. Berdasarkan ras IQ atau tingkat kecerdasan intelektual orang Yahudi Askenazi atau Yahudi Eropa tercatat paling tinggi yakni mencapai 115.

Namun jangan anggap hal ini istimewa sebab orang Tionghoa, Korea dan Jepang mencapai IQ 106. Sementara orang Eropa rata-rata mendapat poin 100 dan orang Indonesia 87. Jika melihat dari data tingkat IQ rata-rata pada sebuah negara yang bersumber dari penelitian Lynn Richard dan Tatu Vanhanen yang dipublikasikan dalam “Intelligence: A Unifying Construct For The Social Sciences” ditemukan negara dengan penduduk IQ tertinggi rata-rata tertinggi adalah Singapura dengan nilai 107, tempat kedua adalah Cina dan Hong Kong dengan nilai rata-rata IQ 105 dan tempat ketiga dengan nilai rata-rata IQ 104 adalah Korea Selatan, Taiwan dan Jepang. Finlandia yang memiliki pola pendidikan baik memiliki IQ penduduk rata-rata 100. Jika orang Yahudi Ashkenazi atau Yahudi Eropa menjadi ras yang dianggap dengan IQ tertinggi, Israel yang berpenduduk mayoritas orang Yahudi malah memiliki penduduk dengan IQ rata-rata 97 atau hanya menempati urutan ke 41. Sedangkan penduduk Indonesia memiliki IQ rata-rata 87, sama dengan poin rata-rata IQ menurut ras.

Tradisi Yahudi ini sejalan dengan kiat membuka kejeniusan anak yang diulas oleh Andrew Fuller dalam bukunya, “Unlocking Your Child’s Genius” yakni menetapkan rutinitas (orang Yahudi mempunyai bahan bacaan harian, mingguan, bulanan), mengembangkan rasa ingin tahu (membiasakan anak mengajukan pertanyaan), mencari sebab-akibat atau keterkaitan dan toleran pada kesalahan anak (tanya-jawab berpasangan atau havruta).Tentu saja setiap orangtua bisa menentukan metode pendidikan dan pola pengasuhan yang paling cocok untuk anak mereka dan paling sesuai dengan kebiasaan orangtua karena bagaimana pun juga orangtua menjadi aktor utama dan faktor yang terutama dalam mendidik anak agar cerdas. Dari kisah sukses pengasuhan anak Yahudi yang menjadi peraih Nobel terbanyak, siapa tahu kelak anak anda-lah yang berhasil mendapat Nobel pertama untuk Indonesia.

Penulis : Moniq Rijkers

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan