Fisip UNISMA : Gelar Haul Tan Malaka

  • Whatsapp
banner 468x60
Lingkar Indonesia.Tan Malaka adalah sosok yang terlupakan di tengah gemuruh arus kemerdekaan yang hebat, ia hanya bisa menikmatinya dari alam kubur. Mungkin benar seperti yang dikatakan oleh Tan; “Ingatlah, bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras dari pada di atas bumi”. Memang, akhirnya ia tewas, namun suaranya terdengar lantang di bumi bangsanya saat ini. Pemikiran-pemikiran beliau yang sangat Revolusioner pun mampu membuat gelombang besar sampai akhirnya ia diakui di Negara Rusia yang dulu dikenal Uni Soviet. Sebagai seorang yang sangat nasionalis, Tan telah memimpikan kemerdekaan bangsanya. Selain bebas dari penjajahan, merdeka bagi TAN MALAKA bukan berarti bebas menjarah dan menghancurkan bangsa lain. Merdeka itu dua arah: bebas dari ketakutan dan tidak menebar teror terhadap bangsa lain. Inilah prinsip Indonesia merdeka. TAN MALAKA tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia.
Namun republik dalam gagasan TAN MALAKA tak menganut trias politika ala Montesquieu. Republik versi Tan Malaka adalah sebuah negara efisien. Republik yang dikelola oleh sebuah organisasi. Bagi TAN MALAKA, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif, legislative dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan yang menjalankan aturan menimbulkan kesenjangan antara aturan dan realitas. Pelaksana di lapangan (eksekutif) adalah pihak yang langsung berhadapan dengan persoalan yang sesungguhnya. Eksekutif selalu dibuat repot menjalankan tugas ketika aturan dibuat oleh orang-orang yang hanya melihat persoalan dari jauh (parlemen). Tan tewas oleh Tentara Republik Indonesia, di Selopanggung, pada 21 Februari 1949. Masih menjadi kontroversi siapa yang membunuh Tan. Harry Poeze, Sejarawan Belanda yang meneliti Tan, mengatakan jika yang mengeksekusi Tan adalah Tentara itu, atas perintah Soengkono. Tan tewas tanpa jejak, pemakamannya pun tak jelas. Ia dihujat dan dilupakan oleh negaranya sendiri. Ia kesepian, api semangatnya yang membara ternyata tak berarti apa-apa oleh ganasnya senapan.Tan dibumi hanguskan oleh negaranya sendiri karena Tan tidak sepakat dengan adanya jalur diplomasi, beliau ingin Indonesia Merdeka 100%.
Jum’at 28/02/2020 Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam 45 Bekasi yang mengilhami pemikiran dan pandangannya untuk Bangsa dan Negara Indonesia,mencoba tetap memperkenalkan serta melestarikan budaya-budaya daya nalar kritis yang diwariskan selama hidupnya.
Kegiatan Dialog Publik Haul Tan Malaka sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap Tan Malaka sebagai sosok Pahlawan Nasional yang harus selalu dikenang dan meneruskan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Acara haul dan dialog Publik ini pun kami turut mengundang pembicara;
Dr. Hadidjojo Nitimihardji, M. Sc. (Ketua Umum Partai MURBA Tahun 1999),
Olisias Gultom (Peneliti Internasional),
Niko Adrian (Aktivis 98),
dan dimoderatori oleh Harry Rizki.
bertujuan agar kaum milenial terkhususnya Mahasiswa UNISMA Bekasi mengetahui alur perjuangan dan cara pandang Tan Malaka, dan tetap mewarisi kobaran api perjuangan layaknya Tan Malaka yang menghabiskan 20 Tahun untuk bergerilya demi Bangsa dan Negara Indonesia mencapai kemerdekaan 100%.
(Red).
banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan