COVID 19: MENGEMBALIKAN ANAK PADA PENDIDIK UTAMA

  • Whatsapp
banner 468x60

MEDIA LINGKAR INDONESIA– Presiden menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) disertai dengan darurat sipil untuk mengefektifkan penanganan wabah Virus Corona (Covid-19). Langkah ini banyak menuai kritik, karena dinilai berpotensi bermasalah dalam hal penggunaan kewenangan. Banyak pihak meminta Jokowi tetap mengacu kepada UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dan tak mengenakan darurat sipil.

Sampai hari ini, jumlah penduduk Indonesia positif terinfeksi Corona di Indonesia sudah mencapai 1.414 kasus, dengan 122 meninggal dan 75 lainnya sembuh. Teramat memprihatinkan jika ratusan nyawa yang hilang tidak dijadikan pelajaran bagi pemegang kuasa untuk membuat aturan tepat dalam menangani pandemi mematikan ini. Alasan ekonomi adalah dasarnya, namun tidak adil jika harus disandingkan dengan banyak jiwa yang terancam menyusul gugur.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Covid 19, virus bengis yang merusak alur hidup dunia tidak boleh dianggap remeh. Negara sangat gagap dalam menghadapinya, tentu akan berimbas bukan hanya pada nyawa korbannya kiat banyak terjangkit, atau warga yang bersiap anarki akibat kondisi ekonomi semakin terhimpit, tapi juga berdampak pada pola belajar siswa. Para siswa yang diliburkan, belum tentu menjalankan kegiatan belajarnya seperti di sekolah karena tidak semua orangtua dapat (sudi) memainkan lakonnya menjadi pendidik utama. Sudah banyak siswa didapati aparat berkerumun di warnet, salah satu tempat yang mereka pilih untuk menghabiskan waktunya dengan bermain games online, atau bahkan berselancar di dunia maya dengan gadget tanpa dampingan orangtua, dimana seharusnya waktu-waktu tersebut dipakai untuk menuntaskan kewajibannya sebagai siswa.

Sebenarnya, keputusan pemerintah agar siswa belajar dirumah ditengah pandemi yang sedang gusar melanda Indonesia ini, menjadi kebijakan yang anggun, harus dimanfaatkan oleh para orangtua untuk mengemas hari demi hari yang berkualitas bersama anak-anak mereka. Bermain dan belajar, bukankah hak anak yang seharusnya mereka peroleh dari kedua orangtuanya? Apalagi, beraktivitas dirumah juga ditujukan untuk para orangtua, jadi hal ini merupakan kesempatan terbaik bagi para orangtua yang biasanya memakan banyak waktu untuk bergiat diluar rumah, kini harus kembali merangkul putra putrinya. Orangtua, bukan hanya ibu, karena tanggung jawab dalam mendidik anak bukanlah hanya dari seorang ibu, melainkan juga ayah.

Ada beberapa hal terpenting dikaji mengenai peran orangtua. Pertama, banyak yang gagal paham mengartikan peran orangtua, yakni ayah mencari nafkah, dan ibu sebagai pendidik. Salah besar. Lebih luar dari itu, arti pendidik bagi anak adalah kedua orangtuanya, tidak bisa dipisahkan. Menjadi orangtua merupakan proses transisi dalam hidup yang tidak mudah. Banyak penelitian membuat studi tentang pentingnya peran ibu untuk perkembangan anak, baik itu dari segi perilaku, fisik maupun psikologis. Akan tetapi, peran ayah tidak kalah penting dibutuhkan dalm proses tumbuh kembang dan pendidikan anak. Stigma bahwa ‘ibu memegang kendali besar dalam mengurus segala hal yang dibutuhkan anak, sedangkan tugas ayah hanya membantu dengan cara mencari nafkah’ tidak jarang membuat para ayah ragu akan perannya dalam membesarkan anak. Pola pikir tersebut malah membuat ayah merasa khawatir berlebih bahkan berpikir bahwa kehadirannya tidak terlalu dibutuhkan oleh buah hati.

Tidak banyak yang sadar bahwa ayah juga merupakan kunci dalam membantu perkembangan kognitif dan emosional anak. Hubungan yang baik antara ayah dan anak juga akan memengaruhi tingkat kepuasan hidup seseorang, terlebih dalam menerima dirinya sendiri dan menerima orang lain dalam interaksi sosial. Hal ini akan menjadi bekal seorang anak dalam membangun hubungan dengan masyarakat luas agar diterima, selain dari kemampuan kognitif atau potensi yang dimilikinya. Selarasnya orangtua dalam mendidik, akan mampu mengurangi resiko timbulnya penyimpangan-penyimpangan sosial atau bahkan gangguan psikologis pada anak.

Banyak orangtua yang risau, bagaimana sebaiknya mengatur waktu untuk dinikmatinya bersama anak dalam situasi terdesaknseperti sekarang ini. Tidak heran jika banyak anak-anak yang berstatus siswa justru lebih bahagia berlama-lama bermain ganes online atau membangun relasi dengan sejawatnya melalui media sosial ketibang belajar dirumah bersama orangtuanya yang kesulitan menguasai emosi ketika mendampingi anak-anaknya dalam menyelesaikan soal per soal. harus dipahami bersama adalah ketika orangtua berhasil mengindahkan jiwa anak dalam kebersamaan yang beresensi, otak anak akan melepaskan hormon oksitoksin dan dopamin yang dapat mempererat hubungan anak dan orangtua. Walaupun aktivitas yang diberikan ayah dan ibu terbilang berbeda, tetapi anak tetap akan menerima atau meniru kadar oksitoksin yang dihasilkan oleh otak kedua orangtuanya. Seorang ayah yang turut andil dalam mendidik dan mengasuh anaknya, tidak akan mengurangi sedikitpun wibawa dan kharismanya.

Satu hal lagi yang juga menjadi sangat indah untuk dibahas, selain sadar akan peran sebagai orangtua adalah pentingnya memahami karakter dan gaya belajar anak, dalam hal ini anak usia dini dan anak remaja yang sama-sama berstatus siswa namun memiliki karakter berbeda. Karakter merupakan sifat bawaan biasanya diturunkan dari kedua orangtua. Karakter ini terkadang bisa membuat orang-orang di sekitarnya senang, namun beberapa juga membuat para orang tua kesulitan untuk mengatasinya. Sayangnya banyak pula orang tua yang belum paham menangani perilaku anak-anak pada usia dini. Sehingga dibutuhkan pengertian serta wawasan luas bagi orang tua dalam memahami karakteristik anak. Sehingga nantinya tidak akan memberikan pengaruh buruk pada perkembangan anak. Sebenarnya, bukan hanya dalam situasi pandemi saja orangtua harus banyak belajar dalam menghadapi anak, namun sudah kewajiban orangtua untuk selalu menggali ilmu dan informasi serta berlatih diri untuk menjalani perannya sebagai orangtau, seumur hidup. Dimana orangtua dituntut untuk banyak berkreasi dalam menjalin komunikasi hati dan raga dengan anak yang sedang banyak-banyaknya memiliki rasa keingintahuan, sulit berdiam diri dalam waktu yang lama karena fisiknya ingin selalu bergerak dan menjelajah, serta jiwanya mudah meronta. Demikian juga dengan anak-anak yang memasuki usia remaja. Emosi labil dan hasrat ingin berontak jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan kemauannya, akan mudah sekali memancing amarah orangtua.

Selain karakter anak, gaya belajar anak pun berbeda-beda, yaitu: 1) Pembelajar visual. Gaya belajar secara visual ini yaitu kemampuan belajar dengan melihat. Gaya belajar ini digunakan pada anak dengan indera pengelihatan yang tajam dan teliti. Kemampuan belajar berhubungan dengan ini, seperti : matematika, bahasa, simbol- simbol, dan lainnya yang berkaitan dengan bentuk. 2) Pembelajar auditori, anak dengan gaya belajar auditori memiliki indera pendengaran lebih baik dan lebih terfokus. Dengan gaya belajar ini, anak mampu memahami sesuatu lebih baik dengan cara mendengarkan. Hal ini berkaitan dengan proses menghafal, membaca, atau soal cerita. 3) Pembelajar kinestetik. Gaya belajar kinestetik yaitu gaya belajar dengan melibatkan gaya gerak. Hal yang berkaitan yaitu seperti olahraga, menari, memainkan musik, percobaan laboratorium, dan lainnya. Gaya belajar ini efektif untuk anak yang menyukai gerak dan gambaran imajinasi berdasarkan gerakan dan global. 4) Pembelajar analitik. Anak dengan gaya belajar analitik memikili kemampuan dalam memandang sesuatu cenderung ditelaah terlebih dahulu secara terperinci, spesifik, dan teratur. Mengerjakan suatu hal secara bertahap dan urut. 5) Pembelajar global. Anak dengan gaya belajar global memiliki kemampuan memahami sesuatu secara menyeluruh. Pemahaman yang dimiliki berisi gambaran besar dan juga hubungan antara satu objek dengan yang lainnya. Anak dengan gaya belajar global juga mampu mengartikan hal-hal tersirat dengan bahasanya sendiri secara jelas. Hal demikian harus benar-benar diperhatikan, agar proses belajar dirumah menjadi dinamik dijalankan bersama. Mengikuti perkembangan bencana covid 19 bukan berarti abai terhadap tanggung jawab sebagai orangtua. Karena covid 19, tidak melulu berdampak guncangan ekonomi, tapi juga krisis kepiawaian orangtua dalam mendidik anak. Karena covid 19, anak-anak kembali pada pangkuan pendidik yang sesungguhnya, maka mainkan peran itu sebaik-baiknya.

Penulis : Ayu Hazar Qurbaini.,S.Psi ( Ketua Umum Founder Bela Asasi Anak dan Perempuan Bekasi )

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan