COVID-19 : LOCKDOWN MEMICU WABAH KELAPARAN MASSAL

  • Whatsapp
banner 468x60

MEDIA LINGKAR INDONESIA–Penyebaran virus corona ini kian hari semakin bertambah. Saat ini dari data yang telah dirilis per 2 April 2020, terdapat 1.790 orang yang positif terjangkit covid-19, dengan 112 orang dinyatakan sembuh dan 170 orang meninggal dunia di Indonesia.

Images : Data Perbandingan per-tanggal 2 April 2020 ( Corona Covid 19)

Ahmad Lauhil Mahfudz.,S.IP Selaku Ketua Kajian Masyarakat Merdeka (KMM) menjelaskan kepada awak Media Lingkar Indonesia “Gejala sosial yang melanda indonesia akhir-akhir ini adalah panic buying”. Banyak sekali barang-barang di pasaran yang mengalami kelangkaan stok dan lonjakan harga berkali-kali lipat. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan. Hand sanitizer hingga masker menjadi langka, namun kepanikan masyarakat saat ini pemerintah pusat maupun daerah sedang berusaha untuk meminimalisir bertambahnya virus corona dengan cara membuat kebijakan yang saat ini diterapkan seperti meliburkan warga (Social Distancing) agar melakukan seluruh aktivitas dilakukan di rumah saja.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Menilai karantina wilayah (lockdown) bukanlah kebijakan yang tepat menangani penyebaran virus corona di Indonesia. Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2018, istilah lockdown dimaknai sebagai aksi “karantina”. Artinya bahwa, bila diterapkan lockdown di Indonesia atau secara parsial misalnya di wilayah Pulau Jawa, maka masyarakat harus dikarantina, diisolir, dijauhkan dari pergerakan lalu lintas sosial secara umum.

Pemerintah harus hati-hati apabila mau mengambil langkah lockdown. Masyarakat kelas menengah kebawah akan menjadi pihak yang paling terdampak dengan kebijakan ini. Pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah akan menurun apabila lockdown dilakukan. Masyarakat yang berada di garis kemiskinan kebanyakan merupakan pekerja di sektor informal, yang mendapatkan pendapatannya harian di luar rumah. Contoh pengemudi ojek online (ojol) ataupun pedagang kaki lima, kalau lockdown dilakukan bagaimana mereka bisa bekerja dan mendapatkan uang ?

Pekerja disektor informal sebut saja Driver Ojol, Buruh Harian dan Pedagang Kaki Lima tidak siap di-lockdown karena mereka bekerja di luar rumah
contoh dalam satu hari penghasilan ojol rata rata 100 ribu, per orang akan kehilangan Rp 1,4 juta jika asumsi lockdown dilakukan dua minggu.

“Mereka harus bayar utang cicilan motor, biaya listrik, kontrakan dan pengeluaran rutin lainnya, dan pastinya terjadi wabah kelaparan massal apabila lockdown tidak disiapkan matang”.

Bagi kaum berduit atau kelas menengah atas, lockdown tak jadi persoalan karena mereka bisa mampu menimbun stok pangan di rumah dalam jumlah besar. Dengan diberlakukannya lockdown, maka jutaan orang terutama yang bekerja di sektor informal akan kehilangan penghasilan. Pemerintah harus menyiapkan stimulus berupa dana tunai untuk diberikan pada kelompok masyarakat kurang mampu agar daya belinya tetap terjaga.

Terkait dengan keamanan finansial adalah memastikan bahwa setiap warga masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk memperoleh makanan dan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Jangan bicara lockdown kalau enggak paham apa-apa dan tidak mempunyai solusi yang merata, hal ini bukan untuk menakut-nakuti tapi ini real selain virus ini nyata, juga Pemerintahan Pusat dan Daerah harus siap bila terjadi lockdown siaga 1, serta solusi secara merata untuk rakyat. (Goez)

Oleh : Ahmad Lauhil Mahfudz.,S.IP ( Ketua Kajian Masyarakat Merdeka Kota Bekasi ) KMM

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan