Cegah Kekerasan Seksual Pada Anak Dengan Bijak Ber-Gadget

  • Whatsapp
Image : Pembica Seminar Anak dan Perempuan
banner 468x60

Penulis : Ayu Hazar Qurbaini.,S.Psi (Founder Bela Asasi Anak dan Perempuan)

Lingkar Indonesia – Beberapa tahun belakangan ini, marah terdengar kasus-kasus kekerasan seksual yang tengah menjadi masalah sosial dan sangat memperihatinkan di Indonesia. Kekerasan seksual saat ini tidak hanya dialami oleh perempuan dewasa saja, tetapi juga banyak dialami oleh anak-abak. Baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan seksual yang menimpa anak-anak, biasanya terjadi di lingkungan sekitar anak, baik itu lingkungan bermain, lingkungan sekolah, bahkan di dalam rumahnya sendiri, tentu saja pelakunya merupakan orang-orang terdekat korban, seperti tetangga, paman, bahkan ayah kandungnya sendiri.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Anak merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan melanjutkan perjuangan demi mempertahankan kemerdekanan, harga diri bangsa dan kemandirian negara. Sudah pasti, setiap anak yang terlahir memiliki hak untuk dilindungi secara fisik dan mentalnya. Karena hanya ditangan anak-anak yang tumbuh dan berkembang secara baik-lah, akan lahir pelaku-pelaku peradaban yang bermoral dan menjunjung tinggi integritas. Bicaraa tegas dalam pasal 15 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari:
1. Penyalahgunaan dalam kegiatan politik
2. Pelibatan dalam sengketa bersenjata
3. Pelibatan dalam kerusuhan sosial
4. Pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan
5. Pelibatan dalam peperangan, dan
6. Kejahatan seksual.

Kekekrasan seksual terhadap anak adalah bentuk penyiksaan anak dimana anak dijadikan pelampiasan hasrat seksual secara paksa dan keji yang dilakukan oleh orang dewasa, bahkan banyak dari pelaku masih tergolong anak dibawah umur. Bentuk-bentuk kekerasan seksual pada anak adalah meminta anak secara paksa dan keji untuk melakukan aktifitas seksual, memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menyajikan tayangan pornografi kepada anak atau memanfaatkan anak untuk memproduksi gambar atau video porno.

Siapapun yang membaca atau mendengar kabar buruk tentang kasus kekerasan seksual yang menimpa anak dibawah umur, sudah tentu akan geram. Tidak sedikit dari mereka yang berjuang membantu korban, mulai dari hal besar hungga hal terkecil untuk menunjukan rasa simpatinya, seolah si pelaku tidak pantas dimaafkan apalagi dibebaskan. Pelaku kekerasan seksual pada anak, dikenal dengan Pedophilia. Pertanyaannya adalah, apakah semua pelaku disebut Pedophilia?

Ada dua tipe Pedophilia. Pertama adalah Pedophilia Eksklusif, yaitu orang-orang yang mempunyai ketertarikan seksual pada anak-anak pra-remaja yaitu dibawah usia 13 tahun. Termasuk didalamnya adalah Nepiophilia atau Infantophilia yaitu yang tertarik pada bayi dan anak-anak kecil (toddlers) yang berusia 0-3 tahun diluar itu ada juga yang tertarik pada anak-anak yang berusia antara 11 sampai dengan usia 14 tahun yang disebut hebephilia. Kedua adalah Pedhophilia Fakultatif, yaitu orang-orang yang memiliki orientasi Heteroseksual pada orang dewasa tetapi tidak menemukan penyalurannya sehingga memilih anak sebagai substitusi. Para pelaku kekerasan seksual pada anak, tidak boleh dibebaskan walau sesetikpun atas alasan “gangguan jiwa”.

Beberapa penyebab yang memicu pelaku melakukan aksi kekerasan seksual diantaranya adalah:

1. Pelaku memiliki riwayat kekerasan seksual saat masih kecil. Dendam yang masih menguasai diri pelaku membuatnya melakukan hal yang sama terhadap korban seperti apa yang dialaminya dahulu.

2. Pelaku pernah menyaksikan kekerasan seksual terhadap anggota keluarga lain saat pelaku masih kecil.

3. Pelaku tumbuh ditengah lingkungan keluarga dengan ideologi patriarki yang kuat.

4. Pelaku adalah korban dari ketidakharmonisan keluarga. Bisa jadi pelaku adalah korban kekerasan yang dilakukan oleh orangtua, atau seringkali menyaksikan kejadian KDRT di dalam keluarganya, sehingga pelaku mencari kenyamanan lain diluar rumah. Namun sayangnya, pelarian yang dilakukan adalah sesuatu yang negatif.

5. Pelaku mengalami masalah hidup, seperti masalah ekonomi yang membuat dirinya tertekan, stress atau depresi sehingga memilih perbuatan tidak senonoh untuk dijadikan pelampiasan.

6. Pelaku memiliki hasrat seks yang tidak bisa disalurkan dengan pasangannya akibat sakit, lumpuh atau ketika pasangannya sedang masa haid atau nifas.

7. Memiliki fantasi seksual yang mendukung adanya kekerasan seksual.

8. Korban yang merupakan anak-anak, terutama balita adalah makhluk tidak berdaya sehingga mudah ditaklukan dan ditindas secara paksa.

9. Memiliki otoritas atas korban. Misalnya, pelaku adalah anggota keluarganya sendiri, bahkan banyak kasus pelaku adalah ayah kandungnya sendiri.

10. Pelaku ketergantungan narkoba, minuman keras atau sering membaca atau menonton konten-konten pornografi.

Sudah banyak kegiatan-kegiatan yang berupaya mencegah semakin banyaknya kasus kekerasan terjadi, namun hanya segelintir oknum atau organisasi yang berani mengangkat issue penyebab terbesar terjadinya tindak kekerasan seksual ini adalah penyalahgunaan kemajuan teknologi sehingga tersesat tidak mampu bijaksana menggunakan gadget. Semua kembali pada keluarga. Dimana anak-anak yang seharusnya mengoptimalkan tumbuh kembangnya melalui stimulasi-stimulasi real, justru malah disibukkan berselancar didunia maya, tanpa batas waktu dan tanpa pengawasan.

Orang tua berdalih “agar anak anteng” atau “agar pekerjaan cepat selesai” sehingga dengan mudahnya mengizinkan anak mengakses segala aplikasi yang semakin canggih. Maka tidaklah heran, jika banyak dari pelaku merupakan anak dibawah umur, yang sejak bayi sudah diberi kenyamanan melalui gatget, tidak peduli konten atau situs apa yang sedang dinikmatinya. Untuk itu, ketika bicara soal kekerasan seksual, jangan hanya fokus pada hukuman yang harus diberikan pelaku. Tapi juga harus fokus pada pencegahannya. 15 tahun hukuman maksimal yang diberikan pada pelaku, tidaklah sebanding dengan derita korban yang sudah pasti mengalami kerusakan fisik dan mental, seperti mimpi buruk yang dialami setiap mata terpejam, ketakutan yang berlebihan pada orang lain, konsentrasi menurun yang akhirnya akan berdampak pada kesehatan.

Tidak hanya itu, anak-anak yang mengalami kekerasan seksual ketika dewasa nanti mereka akan mengalami Phobia pada hubungan seks, akan terbiasa dengan kekerasan sebelum melakukan hubungan seksual, bahkan sangat mungkin mereka akan menjadi pelaku, mengikuti apa yang dialaminya semasa kecil.

Indonesia darurat kekerasan pada anak. Selain keluarga dan pihak sekolah, Negara pun wajib hadir memberikan tanggungjawabnya untuk mencegah terjadinya kasus-kasus kekerasan seksual yang angkanya semakin meningkat setiap tahunnya. Jangan hanya fokus pada pelaku, jika pelaku saja tega menghancurkan masa depan anak seumur hidupnya, maka seharusnya para pelaku sudah tidak pantas diberikan hak hidup.

Post : (GZ)

#DaruratKekerasanSeksualTerhadapAnak

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan