BEM UI dan Kesantunan Mengkritik Jokowi

  • Whatsapp

MEDIA LINGKAR INDONESIA – Ketika kita sedang sibuk dengan musibah Pandemi Covid-19 ada sekelompok Mahasiswa yang menamakan diri Badan Eksekutip Mahasiswa Univetsitas Indonesia (BEM UI) yang berteriak mengkritik Presiden Jokowi dengan sebutan ‘Presiden The King of Lips Service’.

Tentu di era keterbukaan sekarang ini akan menunai pro dan kontra, sebagian ada yang mendukung namun ada juga yang mengkritik balik.

Bacaan Lainnya

BEM UI sebagai representatip sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang banyak melahirkan pemikir intelektual, hingga banyak diantaranya menjadi Menteri di setiap pergantian Presiden. Demikian juga ketika terjadi pergolakan Reformasi Universitas Indonesia banyak melahirkan Tokoh Reformasi.

Namun demikian sekelompok Mahasiswa yang menamakan dirinya Badan Eksekutif Mahasisiwa Sejabodetabek menilai BEM UI era sekarang sangat eksklusif dan hanya mampu berolok-olok terhadap Pemerintahan, khususnya Presiden Joko Widodo. Bahkan, BEM Sejabodetabek menantang BEM UI untuk bergerak melakukan langkah-langkah konkret, agar keluar dari lilitan berbagai persoalan akibat Pandemi Covid-19.

Ario Sanjaya, seorang mantan aktivis 98 (Sekjen BEM Universitas Jakarta 1999 -2000) mengatakan, kritik lewat media social yang dilakukan BEM UI melalui situs resmi lembaga kemahasiswaan, saya rasa suatu yang wajar yang disampaikan Mahasiswa dalam mengaktualisasikan pemikiran.

“Apakah kemudian ada pihakyang turut serta proses tersebut saya rasa dapat dilihat dari pergaulan mereka dengan tokoh-tokoh politik. Dan sedikit banyak pasti akan memberikan effek dalam cara pandang pada setiap persoalan,” tegas Ario Sanjaya.

Ario Sanjaya

Yang pasti, sambung Ario Sanjaya, kritik memang mustinya disampaikan dengan cara yang santun tanpa mengurangi esensi dari bobot kritik itu sendiri.

“Pada jaman dahulu pada saat masa-masa otoriter tentunya kritikakan dilakukan dengan cara berbeda, saat ini jaman sudah sangat berbeda kebebasan benar-benar dijamin oleh hukum, akan tetapi perlu diingat hukum juga melindungi siapapun yang merasa diteror atau dilukai persaanya atas unggahan ungkapan orang lain, maka memang sebaiknya setiap ungkapan semestinya disertai dengan pemahaman untuk tidak melukai perasan orang lain,” terang Ario Sanjaya yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPD Persatuan Alumni GMNI Jakarta Raya menjawab pertanyaan dari Media Lingkar Indonesia, Selasa (6/7/2021).

Tinggalkan Balasan